ISTRI SHOLEHAH
OLEH:
ANI’
ELVIAH
Setiap Keindahan yang tampak
oleh mata, itulah keindahan perhiasa dunia, namun yang paling indah diantara
semua, yang paling indah diantara semua hanya istri sholehah perhiasan
terindah. Hanya istri yang beriman bisa dijadikan teman, dalam tiap kesusahan
selalu jadi hiburan, hanya istri yang sholehah yang punya cinta sejati dari
hidup sampai mati bahkan sampai hidup lagi. (Lagu H. Rhoma Irama). Menjadi
istri sholehah merupakan idaman suami dan harapan kita semua sebagai prasyarat
dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Istri sholehah
memiliki sifat yang bisa
kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:
1.
Penuh kasih sayang, selalu
kembali kepada suaminya dan mencari maafnya. Rasulullah SAW. bersabda :
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni
surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada
suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan
tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum
engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no.
257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no.
287)
2.
Melayani suaminya
(berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur,
pakaian, dan yang semacamnya.
3.
Tidak memberikan Kemaluannya
kecuali kepada suaminya.
-
Al Quran:
Ø
Surat an-Nuur: 2-3 “ Perempuan yang berzina
dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya
seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu
untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari
akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan
orang-orang yang beriman.
Ø
“Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32)
Ø
“Dan orang-orang yang tidak
menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,
barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat
(pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari
kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (al-Furqaan:
68-69).
Ø
“Hai Nabi, apabila datang
kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa
mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak
akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan
antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang
baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah
untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
(al-Mumtahanah: 12).
-
Hadis :
Ø
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga jenis orang yang
Allah tidak mengajak berbicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak
melihat kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang berzina, penguasa
yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,” (HR Muslim
[107]).
Ø
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a, bahwasanya Rauslullah saw. bersabda, “Tidaklah berzina seorang
pezina saat berzina sedang ia dalam keadaan mukmin,”
Ø
Masih diriwayatkan darinya
dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika seorang hamba berzina maka keluarlah
darinya keimanan dan jadilah ia seperti awan mendung. Jika ia meninggalkan zina
maka kembalilah keimanan itu kepadanya,” (Shahih, HR Abu Dawud [4690]).
Ø
Diriwayatkan dari al-Miqdad
bin al-Aswad r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya,
“Bagaimana pandangan kalian tentang zina?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya
telah mengharamkannya maka ia haram sampai hari kiamat.” Beliau bersabda,
“Sekiranya seorang laki-laki berzina dengan sepuluh orang wanita itu lebih
ringan daripada ia berzina dengan isteri tetangganya,” (Shahih, HR Bukhari
dalam Adabul Mufrad [103]).
4.
Menjaga rahasia-rahasia
suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan
suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di
sisi Rasulullah SAW.
Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang
diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada
seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka
mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi
Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar
melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti
syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya
sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani
rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung)
yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)
5.
Selalu berpenampilan yang
bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan
menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku
beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu
istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan
mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu
Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih
3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
6.
Ketika suaminya sedang
berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan
melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta’
(bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya
mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal
bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang
bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no.
1026)
7.
Pandai mensyukuri pemberian
dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku
dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya
kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka
mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya
salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri)
setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan
baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama
sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
8.
Bersegera memenuhi ajakan
suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar’i, dan
tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu
si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga
sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)
Melegakan hati suami bila
dilihat. Rasulullah bersabda, ”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah
takwa
kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya,
selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila
dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan
suaminya, ketika suaminya pergi.” ( HR Ibnu Majah)
kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya,
selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila
dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan
suaminya, ketika suaminya pergi.” ( HR Ibnu Majah)
9.
Amanah. Rasulullah
bersabda, ”Ada tiga macam keberuntungan (bagi
seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu
lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan
dirinya dan hartamu .” (HR Hakim).
seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu
lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan
dirinya dan hartamu .” (HR Hakim).
10.Istri shalehah
mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir
dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda
kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu
sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam
hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang
berpikir.”(QS Ar Rum [30]: 21).
dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda
kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu
sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam
hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang
berpikir.”(QS Ar Rum [30]: 21).
11.Tidak
pernah berburuk sangka terhadap suami.
Isteri yang solehah tidak
terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia
kalau bisa melakukan
tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji
Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
-
"Apabila seorang
perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan
dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari
oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat
baginya."
-
"Wahai Fatimah, setiap
wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh
parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh
bumi dangan langit."
-
"Wahai Fatimah, setiap
wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan
keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada
mereka yang menangis kerana takutkan Allah."
Siapa yang tidak mau
kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang
solehah akan senantiasa
mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk
menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan
membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Bahkan
dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga, karena itu juga yang
menjadi syarat untuk dia mendapat keridhaan
Allah dan keselamatan di akhirat nanti. Setiap
rumah tangga yang dihuni oleh isteri yang solehah berarti rumah tangga itu
telah memiliki inventaris yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumah tangga
itu mendapat perhatianNya. Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : "
Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang
tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama
seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang
pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa
hisab."
Demikianlah sifat dari Istri shalehah itu menurut
Kitab Suci Al Quran dan Hadis-hadis sahih. Semoga Anda
termasuk Istri yang shalehah. Amin.
Assalamu'alaikum ....
BalasHapusAlhamdulilah " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."
Mantab .....
Wasalam